BPBD Kota Malang | BMKG memprediksi awal musim hujan di Kota Malang masuk pada bulan November dasarian I-III. Jika menilik pada tahun-tahun sebelumnya, tiap musim hujan, bencana tanah longsor dan banjir genangan berulang kali menghantui Kota Malang. Maka itu perlu adanya persiapan dan kesiapsiagaan untuk menghadapi musim hujan tahun ini.

Sebagai institusi pemerintah pegiat kebencanaan, BPBD Kota Malang berkolaborasi dengan perguruan tinggi menyusun kajian yang berisi tentang rencana kontijensi untuk cuaca ekstrim dan banjir genangan. Penyusunan kajian sudah dilaksanakan sebelum musim hujan tiba.

Hasilnya, bertempat di meeting room hotel Aria Gajayana Malang, diselenggarakan pemaparan laporan akhir kajian pengurangan risiko bencana untuk cuaca ekstrim dan genangan air pada Rabu (25/9/2019) pagi. Ini merupakan acara ketiga setelah sebelumnya dilakukan laporan pendahuluan dan laporan antara di kantor BPBD Kota Malang.

Pengurangan risiko bencana banjir ini disusun bukan tanpa alasan. Banjir genangan di Kota Malang sudah menjadi bencana yang masif. Setiap kali hujan, banyak titik di Kota Malang yang tergenang banjir. Meski banjir genangan berlangsung dalam hitungan jam, namun dampaknya sudah merugikan warga.

Dalam sambutannya, Tri Oky Rudianto, sekretaris BPBD Kota Malang menyebut pentingnya dilakukan penyusunan kajian ini untuk menyatukan gerak, sinergi dan koordinasi dalam penanggulangan bencana.

“Nanti dengan adanya rencana kontijensi ini dapat ditentukan siapa berbuat apa dan apa berbuat apa. Jadi dalam penanganan bencana tidak ada tumpang tindih, yang ada superteam yang handal,” tegasnya

Pemaparan kajian pengurangan risiko bencana banjir genangan ini disampaikan oleh Turniningtyas, akademisi dari Universitas Brawijaya Malang. Dalam paparannya, dijelaskan potensi bencana di Kota Malang, kapasitas yang dimiliki Kota Malang dan juga peran serta tupoksi masing-masing OPD dalam penanganan bencana.

Acara ini dihadiri sekitar 77 peserta undangan. Peserta undangan berasal dari kelurahan tangguh, relawan kebencanaan, dunia usaha, dan lintas OPD seperti Disperkim, Damkar, DPUPR, Dinsos, BMKG, dll.

Setelah sesi pemaparan selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi. Sesi ini berlangsung cukup interaktif karena ada yang memberikan masukan, saran, koreksi bahkan sanggahan. Turniningtyas menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penyusunan kajian kontijensi. Maka dengan adanya saran dan kritik ini, diharapkan rencana kontijensi akan lebih sempurna dan siap untuk diaktivasi.

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *