MASUKI PANCAROBA, BENCANA HIDROMETEOROLOGI MULAI MENCUAT

0

BPBD Kota Malang – Pertengahan September 2020 hingga Oktober 2020, Kota Malang telah memasuki musim pancaroba atau musim peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Karakteristik musim pancaroba biasa ditandai oleh adanya hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi disertai banyaknya petir dan angin kencang dalam rentan waktu yang singkat. Pemicu seperti ini menyebabkan munculnya bencana hidrometeorologi pada Oktober 2020 ini.

Weather Station BPBD Kota Malang mencatat adanya peningkatan akumulasi curah hujan yang sangat drastis dari bulan September ke Oktober yaitu dari 13 mm menjadi 113.8 mm. Ditambah lagi dengan adanya fenomena La Nina pada awal Oktober 2020 yang berpengaruh besar terhadap curah hujan di wilayah Kota Malang. Selain itu, kecepatan angin bereskalasi cukup signifikan. Tercatat pada bulan Oktober 2020 kecepatan angin maksimal mencapai 55 km/jam atau meningkat 49% dibanding bulan September 2020.

Melihat kondisi cuaca di atas, tak heran wilayah Kota Malang muncul bencana hidrometeorologi diantaranya tanah longsor dan angin kencang. Pusdalops PB BPBD Kota Malang mencatat ada 4 bencana hidrometeorologi yang terdiri dari 2 angin kencang dan 2 tanah longsor. Untuk kejadian angin kencang terjadi di wilayah kelurahan Rampal Celaket dan Kelurahan Cemorokandang. Kejadian tersebut menyebabkan 2 pohon tumbang hingga merusak atap bengkel akibat tertimpa pohon. Meski menimbulkan kerugian, tidak ada korban luka/jiwa dalam kejadian tersebut. Untuk kejadian tanah longsor, titik lokasi berada di kelurahan Bunulrejo dan kelurahan Pisangcandi. Tanah longsor terjadi di daerah aliran sungai yaitu anak sungai Brantas di Bunulrejo sungai Metro di Pisangcandi. Tanah longsor pada anak sungai Brantas menyebabkan sejumlah makam menggantung sedangkan tanah longsor di sungai Metro menyebabkan dapur rumah seorang warga mengalami ambol.

Selain kejadian bencana hidrometeorologi, Pusdalops PB BPBD juga mencatat bencana non alam diantaranya 4 kejadian pohon tumbang, 1 kebakaran bangunan, serta kejadian atap roboh akibat talang air tersumbat saat terjadi hujan lebat. Tak hanya bencana alam, bencana sosial pun turut menyumbang jumlah kejadian pada bulan Oktober 2020 ini. Bencana sosial di sini adalah terjadinya kerusuhan saat demonstrasi menolak UU Ciptakerja di depan di gedung DPRD dan Balai kota Malang. Dalam kejadian ini setidaknya 9 orang mengalami luka ringan hingga sedang. Sejumlah fasilitas umum dan gedung perkantoran mengalami rusak ringan.

Berdasarkan uraian kejadian bencana di atas dapat disimpulkan jumlah total bencana pada Oktober 2020 ada 11 kejadian bencana ditambah dengan bencana non alam yang masih berlanjut yaitu pandemi COVID-19. Jika pada bulan September 2020 bencana hidrometeorologi belum tampak, maka memasuki musim pancaroba pada Oktober 2020 bencana hidrometeorologi mulai mencuat. BMKG juga telah memprediksi awal musim hujan di wilayah kota Malang masuk pada Oktober dasarian pertama. Kemudian pada November 2020, curah hujan akan mengalami peningkatan pada level menengah yaitu berkisar 50-150 mm. Meski masih dalam batas normal, fenomena La Nina yang masih aktif dapat memicu peningkatan curah hujan hingga 40%. Oleh sebab itu upaya kesiapsiagaan perlu ditingkatkan terlebih pada titik-titik rawan bencana banjir dan longsor sehingga dampak kerusakan serta kerugian dapat diminimalisir dan tidak menimbulkan korban luka/jiwa.

Share.

About Author

Leave A Reply