[UPDATE] SEPANJANG 2019, 119 BANGUNAN RUSAK AKIBAT BENCANA

0

BPBD Kota Malang | Menutup tahun 2019, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mencatat 119 buah bangunan rusak akibat bencana yang melanda Kota Malang.

Sepanjang 2019 itu pula BPBD telah mencatat selain bangunan, terdapat 18 orang mengalami luka-luka serta 61 orang lainnya terpaksa diungsikan ke lokasi yang lebih aman. Korban luka akibat bencana ini umumnya akibat terkena reruntuhan atap, terkena jilatan api atau cedera akibat tertimpa pohon yang tumbang.

Hal ini diungkap oleh Kasi Kesiapsiagaan BPBD Kota Malang, Nur Asmi. Menurutnya dari 119 bangunan tersebut terinci sbb : 7 bangunan berupa prasarana umum dan 107 unit bangunan rumah rusak, 5 kantor dan jembatan rusak. Kerugian lainnya yakni 13 ekor hewan ternak ikut mati. Kerusakan terbanyak umumnya berasal dari bencana kebakaran.

“Bangunan yang berupa fasilitas umum seperti kantor, sekolah, titian dan plengsengan. Sisanya rumah tempat tinggal warga,” ujar Asmi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa malam (31/12/19).

Seperti diketahui, data terakhir Pusdalops PB Kota Malang telah mencatat 217 kasus bencana melanda Kota Malang. Angka ini agak turun dibandingkan dengan jumlah kasus bencana tahun 2018 lalu yang tercatat 222 bencana. Perinciannya 46 kali kebakaran lahan, 46 kali tanah longsor, 23 kasus angin kencang, 15 kasus banjir (genangan air), efek gempa 2 kali, 1 konflik sosial, dan sisanya yang paling banyak yakni kejadian non alam sampai 84 kali. Non Alam disini bisa dipecah menjadi beberapa bagian yakni (Kebakaran bangunan,Pohon tumbang ataupun Kejadian Gagal Kontruksi).

“Total nilai kerusakan dan kerugian mencapai Rp. 11,7 miliar. Dibanding kerugian tahun lalu yang sebesar Rp. 6,6 miliar, jadi ada kenaikan 78 persen,” terang perempuan berhijab ini.

Terkait intensitas kebakaran, Asmi menyebut bencana kebakaran mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun 2018 lalu BPBD mencatat 69 kali kasus kebakaran yang melanda Kota Malang, sedangkan 2019 terdapat 46 kasus kebakaran itupun terjadi pada Bulan Oktober yang kebetulan memang banyak terjadi kebakaran lahan pada musim kemarau ditambah lagi hembusan angin yang cukup kencang membuat api semakin sulit dipadamkan. Belum lagi kebakaran bangunan sebanyak 40 kasus. Akibatnya banyak rumah ludes jadi abu dan belasan KK pun terpaksa memilih mengungsi.

“Ada kasus kebakaran yang cukup besar yakni kebakaran trafo gardu listrik RS Syaiful Anwar Februari lalu yang bernilai kerugian 6 miliar lebih. Selebihnya kebakaran yang melanda permukiman dan lahan kosong,” terang alumni disaster management UGM ini.

Sementara itu, bencana tanah longsor tercatat di logbook BPBD Kota Malang sebanyak 46 kasus. Angka ini nyaris serupa dengan data bencana tanah longsor tahun 2018 yang tercatat 49 kasus. Umumnya tanah longsor terjadi pada bangunan penunjang perkuatan tebing atau plengsengan.

“Bangunan plengsengan paling banyak yang mengalami longsor atau ambrol. Umumnya posisi plengsengan berada di tebing sungai atau menyatu dengan bangunan rumah. Paling sering lagi terjadi pada periode Januari hingga April saat musim hujan,” tutur Asmi menambahkan.

Bencana hidrometeorologi lainnya seperti genangan air intensitasnya tak banyak berubah. Tahun 2018 tercatat 14 kali sedangkan di 2019 BPBD mencatat 15 kali genangan air terjadi. Dampak banjir ini rupanya berpengaruh terhadap daya dukung tanah maupun umur bangunan lain seperti mengelupasnya jalan (aspal), ambruknya titian, ambrolnya plengsengan sampai jebolnya pondasi rumah.

“Meski bencana tak bisa diprediksi, namun bangunan atau fasilitas harus bisa diukur potensi kerawanannya. Kita tak ingin akibat bencana, masyarakat kita terpaksa mengungsi atau bahkan jatuh korban. Menumbuhkan kesadaran untuk menjaga alam (lingkungan) sangat penting. Kami berharap tahun 2020 jumlah bencana maupun nilai kerugiannya dapat direduksi semaksimal mungkin.” tutupnya.

Pewarta : Mahfuzi
Editor : Ilham Fath
Uploader : Aziz Wijaya

Share.

About Author

Leave A Reply